Air Hutan Larangan [Riaupos]


Meskipun air itu berasal dari hutan larangan adat, namun ia tak terlarang untuk dimanfaatkan.
Di Hutan Larangan Adat Kenegerian Rumbio, terdapat sebuah sungai kecil. Airnya begitu jernih, hingga dasar sungai yang berpasir putih terlihat jelas.
Saat tim Riau Pos For Us, yang awal pekan lalu berkunjung ditempat ini dan menyentuhnya, air itu terasa sejuk.  Salah seorang anggota tim pun tergoda untuk meminumnya. Airnya terasa manis dan segar.
Ya, tak ada rasa was-was ketika meminum air di tengah hutan tersebut. Menurut Masriadi dan Wahyudi, anak kepenakan di kenegerian itu yang  menemani tim Riau Pos, air di sungai itu memang layak diminum. Rasanya manis dan segar.
“Airnya sangat bersih. Asli mengalir dari akar-akar pohon hutan. Tidak tercemar. Jangankan di sini. Air yang di kaki bukit saja, banyak yang langsung meminumnya tanpa harus dimasak,” ujarnya.
Air yang berada di sungai kecil itu memang menjadi sumber air bersih oleh penduduk setempat. Saat kami berada di kaki bukit, tampak jirigen-jirigen air, galon-galon air yang jumlahnya puluhan menampung air yang dialirkan melalui pipa. Air tersebut tak hanya dimanfaatkan warga setempat, tetapi juga   banyak dijual  hingga wilayah Bangkinang dan Kota Pekanbaru, khususnya di perbatasan.
“Saat ini, air permukaan yang bisa dimanfaatkan sebagai air bersih sudah berkurang. Itu karena banyak hutan lindung ditebangi. Sumber air menjadi terbatas, apalagi di daerah perkotaan. Oleh karena itulah kami berupaya agar sumber air dari Hutan Larangan Adat Rumbio ini tetap ada,” ujarnya.
Pasalnya, air dari hutan larangan ini tidak saja  menjadi sumber air minum dan air bersih. Air dari hutan adat itu juga punya nilai ekonomis. Penduduk setempat memperjualbelikannya sebagai pekerjaan utama maupun sampingan. Selain itu juga dimanfaatkan untuk mengairi ratusan kolam ikan dan ratusan petak sawah.
Tak hanya airnya yang memiliki manfaat besar bagi penduduk. Namun, kata Masriadi, ia juga merupakan sumber kehidupan penopang. “Bila hutan ini habis maka bencana alam banjir dan longsor akan terjadi. Makanya kami menjaga hutan agar tetap alami,’’ ujar Masriadi  yang saat ini memimpin Yayasan Pelopor Sehati.(Mashuri Kurniawan/riaupos.com/iH6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *