Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19

Hingga hari Sabtu (14/3) total pasien positif coronavirus disease (COVID-19) yang dinyatakan sembuh ada 8 orang. Jubir Pemerintah untuk Covid-19 dr.Achmad Yurianto mengatakan 8 pasien tersebut sembuh tanpa keluhan apapun. “8 orang sembuh indikasinya tidak ada keluhah, 2 kali pemeriksaan spesimen tidak ditemukan lagi, artinya negatif,” ujar dia pada Konferensi Pers di Gedung BNPB, Sabtu (14/3).

Namun ada beberapa yang tidak sembuh karena ada komorbid. Sampai sekarang ada 5 orang meninggal. “Kalau dilihat sebaran kasus Covid-19 sekarang sudah melebar, Jakarta, Jabar, Tangerang, Jateng, Bali, Manado, Pontianak, dan beberapa tempat lain yang sedang kita tracing,” ujar dr. Achmad.

Ini yang membuat semua pihak harus selalu waspada dan tracing lebih keras lagi. “Ini kewaspadaan bersama, berorientasi pada pergerakan orang, tidak pada kasus satu persatu tapi komunitas untuk menjaga jangan sampai yang sehat jadi sakit,” ujar dr. Achmad.

Jubir Pemerintah untul Covid-19 dr.Achmad Yurianto mengatakan ada 96 orang positif Covid-19. “Update hari ini jumlah positif Covid-19 ada 96 perhari ini,” kata dia. Oleh karena itu ada penambaham kasus baru sebanyak 27 orang setelah kemarin Jumat (13/3) dinyatakan total postif 69 orang.

Ia menyebut pasien positif 27 orang tersebut didapat dari tracing. Tracing saat ini menyebar di Tanah Air sehingga tidak lagi dengan pendekatan biasa. “Strategi dilakukan dengan pendekatan komunitas, kita tidak lagi berbicara tentang orang sakit tapi orang sehat jangan ada yang sakit alibat Covid-19,” katanya.

Oleh karena itu, tambah dia, strategi itu haris diawasi dengan memutus penularan. Tracing diawali dengan pertanyaan ketularan siapa dan menulari siapa. “Bisa saja tidak menyebutkan ketularan siapa tapi baru pulang dari negara endemis misalnya. Maka berikutnya di Indonesia ketemu siapa saja,” ujar dia.

Beberapa pemerintah daerah mengambil langkah cepat untuk mencegah penularan COVID-19 dengan membatasi penumpukan masa di beberapa area publik. Hal ini dilakukan sesuai dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang pencegahan penularan virus COVID-19, COVID-19 ini bisa menular ketika seorang penderita COVID-19 batuk atau bersin yang melepaskan tetesan cairan. Tetesan ini jatuh pada permukaan dan benda di dekatnya seperti meja, kursi atau pakaian bahkan langsung mengenai tubuh orang terdekat. 

Orang bisa terinfeksi COVID-19 dengan tidak sengaja menyentuh benda yang terkontaminasi cairan tersebut kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut. WHO menganjurkan untuk menjaga jarak aman dengan orang lain ketika berada di fasilitas umum sekitar 1,5 hingga 2 meter.

Beberapa obyek wisata di dunia ditutup sementara waktu untuk membatasi kerumunan yang bisa dengan cepat menularkan COVID-19 ini, antara lain Tembok Besar Tiongkok di Tiongkok, Tokyo Disneyland di Jepang, Taman Rekreasi Legend Siam di Thailand, Museum Nasional Korea di Korea Selatan dan Museum Lovre di Perancis.

Menanggapi hal itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, akan menutup beberapa obyek wisata di DKI Jakarta untuk pembersihan dan mengurangi penumpukan masa, “Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menutup obyek-obyek wisata yang yang dikelola oleh pemprov Jakarta selama dua pekan mulai 14 Maret hingga 29 Maret 2020 dan meniadakan kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor untuk 2 pekan ke depan. Hal ini dilakukan untuk pembersihan dengan cairan disinfektan serta mengurangi kerumunan masa. Selain itu diimbau kepada masyarakat untuk mengurangi kegiatan di tempat umum sebagai salah satu cara pencegahan penyebaran COVID-19”, ucap Anies. 

Sementara itu Walikota Solo F.X. Hadi Rudyatmo akan mengurangi berkumpulnya masa di tempat umum dengan menutup sejumlah obyek wisata, kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor ditiadakan, kegiatan-kegiatan yang akan mengumpulkan kerumunan ditunda dan menyiapkan tempat cuci tangan di mal, pasar dan lokasi strategis lainnya serta memyemprotkan cairan disinfektan dibeberapa fasilitas umum lainya sebagai langkah mencegah penyebaran COVID-19 di kota Solo.

Pembersihan beberapa obyek wisata ini sejalan dengan imbauan Kepala BNPB Doni Monardo pada saat meninjau kegiatan bersih-bersih di Stasiun Gambir, Kamis (12/3), Doni mengatakan, “kami mengimbau kepada pemerintah pusat dan daerah, swasta hingga keluarga di rumah untuk rutin membersihkan lingkungan masing-masing untuk mencegah penyebaran COVID-19”, tutup Doni.

Hand Sanitizer Sederhana untuk Cegah Virus Corona

Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono, menyebutkan ketika produk hand sanitizer menjadi semakin langka, masyarakat bisa membuatnya . “Bahan-bahannya tersedia di toko-toko kimia. Masyarakat tidak perlu panik dan khawatir karena bisa membuatnya sendiri. Tentunya tetap dalam pengawasan orang dewasa atau yang sudah berpengalaman,” jelas Agus.

Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan hand sanitizer sederhana adalah 50 mililter air yang berfungsi sebagai pelarut, 200 mililiter Ethanol berkadar alkohol 95 persen yang berfungsi sebagai antiseptik, satu sendok teh Carbomer untuk pengental, 33 mililiter Propylene glycol yang berfungsi sebagai pelembab, dan 3 tetes Triethanolamine yang berfungsi sebagai pengikat pH. Formula ini menghasilkan 250 mililter hand sanitizer berkadar alkohol 63 persen.

Cara pembuatannya, pertama dengan mencampurkan air dan Propylene glycol ke dalam wadah bersih (panci alumunium atau pinggan pyrex) sambil dipanaskan dan diaduk. Lalu tambahkan Carbomer sedikit demi sedikit sampai temperatur mencapai 80-90 derajat dan semua bahan tercampur dan larut sempurna. Proses selanjutnya adalah penambahan Triethanolamine agar campuran tersebut berubah menjadi gel. Lalu penambahan Ethanol  sedikit demi sedikit ke dalam campuran gel. Tahap ini dilakukan tanpa proses pemanasan untuk menghindari penguapan dan pengadukan dilakukan selama kurang lebih 15 menit hingga hand sanitizer yang berbentuk gel ini siap digunakan.

LIPI rencananya akan memproduksi 300 liter hand sanitizer untuk penggunaan di lingkungan LIPI dan juga akan dibagikan ke sekolah-sekolah di sekitar kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong. Setiap batch produksi dapat menghasilkan 10 liter hand sanitizer yang dikemas dalam botol ukuran 250 ml dan 100 ml. “Hand sanitizser produksi LIPI ini mengandung bioetanol sebagai antiseptik sebanyak 63 sampai 65 persen dan nano silver sebagai tambahan antiseptik sebanyak 0,3 persen,” ujar Agus.

Selain itu, LIPI memiliki beberapa alternatif agen anti-mikroba yang diekstrak dari bahan alam Indonesia yang bisa membantu untuk membunuh mikroba yang menempel pada tangan. “Ekstrak rempah seperti pala dapat menambah aroma wangi alami pada hand sanitizer. Sebagai aroma, ditambahkan juga pala, fraise, dan isopulegol sebanyak 0,05 sampai 0,1 persen,” ungkap Agus.

Diharapkan upaya bisa mengatasi kekhawatiran masyarakat dan kelangkaan produk hand sanitizer di pasaran.. “Tidak perlu panik. Kita bisa cegah infeksi virus Corona dengan menjaga kebersihan diri, rajin cuci tangan dan gunakan hand sanitizer,” tutup Agus.

Dampak Virus Corona pada Laju Ekonomi Indonesia 2020

Pusat Penelitian Ekonomi LIPI pada akhir tahun 2019 lalu memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia sebesar 5,04% untuk tahun 2020 ini. “Akibat wabah virus corona menyebabkan pelemahan perekonomian Tiongkok mengalami kontraksi. Kondisi tersebut kemudian di susul dengan kebijakan pemerintah Indonesia  tentang upaya pembatasan ekspor-impor ke Tiongkok membuat angka tersebut akan sulit untuk dicapai,” ujar Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho.
 
Agus menjelaskan, hasil perhitungan menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkoreksi sebesar 0,19 persen hingga 0,29 persen. “Pertumbuhan akan berada di angka 4,84 persen  untuk kasus moderat dan hanya mencapai 4,74 persen jika kepanikan terus meluas,” ungkapnya. Dirinya menjelaskan, angka tersebut baru dampak pada putaran pertama atau first round effect saja.
 
Sektor pariwisata menjadi terdampak pertama kali dengan potensi kerugian pendapatan devisa nasional  mencapai 2 milyar dolar Amerika Serikat. “Angka tersebut dari hasil simulasi berdasarkan perhitungan catatan 2019, ada 2 juta turis asal Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia dengan rata-rata lama tinggal 6 hari dan menghabiskan 157 dolar per orang per hari,” terang peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI,  Panky Tri Febiansyah. Dirinya menjelaskan, asumsi  perhitungan ini dapat  dipakai sebagai prediksi untuk 2020 bahwa turis asal Tiongkok akan menunda atau membatalkan perjalanannya ke Indonesia.  

Sektor perdagangan Indonesia juga diprediksi akan mengalami sejumlah kontraksi. Lebih dari 495 jenis komoditas dengan tujuan ekspor Tiongkok akan terimbas. Sementara sekitar 499 jenis barang impor dari Tiongkok diperkirakan akan menyusut atau bahkan menghilang dari pasar Indonesia. “Sebagian besar produk yang merupakan barang konsumsi strategis akan memiliki implikasi serius terhadap inflasi dalam negeri. Pemerintah perlu memantau kondisi pasar mengingat pada potensi pergerakan harga menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri,” ujar Panky.  
 
Dirinya  juga menyarankan kepada pemerintah, khususnya Otoritas Jasa Keuangan  agar memberikan kelonggaran jatuh tempo kredi bagi UMKM yang berpotensi terdampak dari pelemahan ekonomi Tiongkok tersebut. “Sejumlah langkah strategis harus dipersiapkan guna mereduksi potensi dampak negatif pelemahan perekonomian dan sejumlah blokade perdagangan akibat wabah COVID-19 ini,” tutupnya. (Dari berbagai sumber). ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *