Eco-Driving, Konsep Mengemudi Ramah Lingkungan

Kenaikan harga BBM kendaraan bermotor selalu membuat masyarakat berada dalam posisi yang sulit dan dilematis. Kebutuhan akan BBM tidak bisa dihindari, sementara kondisi perekonomian masyarakat tidak mengalami perubahan signifikan. Apalagi efek kenaikan BBM akan selalu berpengaruh terhadap kenaikan harga-harga lainnya. Keresahan dan rasa frustrasi masyarakat akan terus terjadi jika tidak memiliki strategi untuk menyiasatinya.

Sementara itu, kondisi lingkungan akibat polusi kendaraan bermotor sisa pembakaran BBM maupun O2 sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut cakson_faisal dalam ada-blazer.blogspot.com. Reaksi kimia akibat pembakaran yang tidak sempurna melahirkan sisa karbon monooksida (CO) yang menjadi polutan berbahaya. Terdapat pula polutan berbahaya lainnya, seperti NOx dan HC. Polutan ini diakibatkan karena bahan bakar tidak hanya mengandung senyawa oktana saja, tetapi sering ditambahkan dengan bahan adiktif.

Salah satu konsep berkendaraan yang cukup populer saat ini adalah eco-driving. Terjemahan gamblang istilah Bahasa Inggris ini adalah mengemudi ramah lingkungan. Mungkin kalo kita deskripsikan lebih panjang, eco-driving adalah konsep berkendaraan yang hemat BBM dan ramah lingkungan. Konsep ini tidak hanya mengacu pada teknik mengemudi, tetapi yang lebih penting adalah filsafat mengemudi yang berfokus pada penghematan BBM dan keselamatan dalam mengemudi.

Dalam situs website www.ecodrive.org disebutkan bahwa konsep eco-driving merupakan budaya mengemudi baru dengan menggunakan teknologi kendaraan modern, yang mampu meningkatkan keselamatan dalam berkendaraan di jalan. Konsep ini merupakan salah satu komponen penting dari mobilitas massa yang terus menerus. Karena konsep eco-driving memberikan kontribusi besar untuk perlindungan iklim dan pengurangan polusi.

Beberapa cara mengemudi yang sesuai dengan konsep eco-driving adalah (1) Mengantisipasi arus lalu lintas dengan cara selalu memperhatikan kondisi jalan, menjaga jarak aman dengan kendaraan lain, meningkatkan kewaspadaan, menggunakan gigi netral saat berhenti, dan mengontrol rem. (2) Mempertahankan kecepatan dan tetap di RPM rendah, dengan cara menghindari kecepatan berlebih dan pengereman mendadak. (3) Pencegahan dini dengan cara menggunakan gigi tinggi di sekitar 2.000 RPM, memeriksa spesifikasi kondisi kendaraan, seperti kurva dan torsi  mesin. (4) Memeriksa tekanan ban, karena tekanan ban akan mempengaruhi resiko kesematan dan bahan bakar limbah. (5) Menghindari beban berlebih dalam kendaraan dengan cara selektif memilih barang yang perlu dan tidak perlu dibawa dalam kendaraan.

Dalam konteks yang lebih luas, konsep eco-driving juga akan sangat bermanfaat dalam berbagai aspek lainnya. Seperti, (1) Menjaga keselamatan karena akan selalu mendorong masyarakat untuk senantiasa meningkatkan keterampilan dalam mengemudi. (2) Menyelamatkan lingkungan, karena bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2), meminimalisir polusi udara lokal, dan pengurangan kebisingan. (3) Menghemat keuangan, karena akan mampu menghemat bahan bakar dan uang sekitar 5-15% dalam jangka panjang, menurunkan biaya perawatan kendaraan, dan mengurangi biaya kecelakaan. (4) Pengaruh sosial, karena akan membuat pengemudi lebih bertanggung jawab dalam berkendara, mengurangi stres dalam mengemudi, meningkatkan kenyamanan pengemudi dan penumpang.

Penegasan tentang pengaruh eco-driving terhadap keselamatan, ekonomi, sosial dan tatanan ekologis dikemukakan Bartosz Sapota, Kepala Akademi Teknik Mengemudi sDrive, Polandia dalam www.motofirma.pl. Menurutnya konsep eco-driving memperhatikan gaya mengemudi yang difokuskan pada keselamatan semua pengguna jalan. Pengemudi memfokuskan diri pada identifikasi apa yang terjadi di sekiatarnya dan juga di jalan. Sehingga penumpang nyaman dan aman, kemacetan dapat dikurangi, dan lebih ekonomis karena menggunakan lebih sedikit rem serta menghemat bahan bakar.

Mengemudi dengan konsep eco-driving yang dapat mengurangi polusi lingkungan, menurut Bartosz Sapota harus memperhatikan penggunaan mesin yang tidak melebihi kecepatan di atasi 2000 – 2500 rpm. Hal ini sangat penting karena dalam kondisi demikian gas buang ditekan menjadi ¾ kali lebih besar. Kecepatan di atas 80 km/jam juga tidak begitu baik untuk berkendaraan di dalam kota karena akan banyak menggunakan rem yang debu-debunya akan berpengaruh pada pencemaran lingkungan.

Masalah lainnya adalah penggunaan AC. Demi kenyamanan dalam mobil biasanya pengemudi penggunaan AC tidak terkontrol, padahal hal tersebut bisa meningkatkan konsumsi BBM hingga l/100 km. Dalam kasus ekstrim, seperti saat cuaca panas, pada menit pertama untuk mendinginkan bagian dalam mobil 20 derajat celcius bisa menguras BBM sampai dengan 4 liter per 100 km. Oleh karna itu, beberapa menit setelah mobil terkena panas sinar matahari saat parkir, bukalah kaca jendela mobil untuk menurunkan suhu udara di dalam. Baru setelah agak dingin kita bisa menggunakan AC sambil berjalan. Are you an eco-driver? (iH2).

Sumber Tulisan : www.ecodrive.org, cakson_faisal dalam ada-blazer.blogspot.com, dan Kamila Dzika, dalam www.Motofirma.pl.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *