Pemanfaatan Sampah Hijau sebagai Media Tanam Jamur Tiram Putih

Sampah merupakan hal yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia di muka bumi. Sampah di Indonesia sendiri, saat ini pengolahannya masih belum optimal, sehingga keberadaan sampah semakin menumpuk. Komposisi sampah hijau dalam tumpukan sampah sekitar 37 %, dimana pemanfaatannya sebagian besar hanya sebagai pupuk organik. Kepedulian masyarakat tentang sampah harus dibangun dan perlu adanya sosialisasi suatu cara bagaimana pengolahan sampah hijau yang baik dan dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, memperbaiki lingkungan disekitarnya.

Pemanfaatan sampah hijau seperti ditulis dalam http/www.blogspot/Agriculture, Blog Mahasiswa Universitas Brawijaya, posted by Ilham Nugroho adalah dengan menjadikannya media untuk penanaman Jamur Tiram Putih. Menurut mereka, hal ini akan sangat menguntungkan secara ekonomi mengingat permintaan jamur tiram putih di Indonesia cukup tinggi, hal ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat yang telah mengetahui manfaat dari jamur tiram putih itu sendiri. Seiring dengan meningkatnya permintaan jamur tiram di Indonesia, maka meningkat pula bahan dasar yang harus dipenuhi dalam budidaya tanaman jamur tiram putih. Bahan dasar dalam budidaya jamur ini adalah adanya media tanam, dimana bahan utama dalam media ini adalah serbuk kayu. Ketersediaan serbuk kayu sebagai bahan dasar dalam media tanam untuk saat ini semakin berkurang karena bahan utama yaitu kayu juga semakin berkurang, sehingga dapat mengganggu ketersediaan jamur tiram itu sendiri.

Permasalahan sampah hijau dapat dikombinasikan dengan media tanam jamur tiram putih, karena sampah hijau dapat menjadi kompos yang baik bagi pertumbuhan jamur tiram putih. Kombinasi dari dua bahan yang berbeda, namun memiliki unsur yang hampir sama, sehingga penggunaan serbuk kayu dapat diminimalisir dan pemanfaatan sampah hijau semakin bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Adanya permasalahan di atas, maka adanya suatu alternaif cara pembuatan media tanam jamur tiram putih dengan penggunaan sampah hijau sebagai berikut:

Persiapan

Serbuk kayu/gergaji yang umum digunakan dalam budidaya jamur tiram putih adalah kayu sengon laut, kayu mahoni, kayu nangka/mawar, kayu kampong dan kayu meranti. Hal yang harus dilakukan dalam persiapan ini adalah menyediakan semua bahan dengan komposisi dan takarannya masing-masing. Ukuran serbuk gergaji yang kasar dan halus menentukan jumlah, sebaiknya pilih ukuran serbuk gergaji yang halus karena lebih mudah dalam pengaturan kadar air, dan juga berat yang didapat biasanya lebih banyak.

Serbuk kayu yang akan dijadikan media adalah serbuk terlebih dahulu dijemur, tujuannya untuk membunuh bakteri yang lain. Serbuk kayu kemudian diayak dan harus terhindar dari hujan karena air hujan dapat mengakibatkan naiknya kadar asam pada kayu tersebut. Budidaya yang termudah adalah menggunakan serbuk gergaji dari kayu sengon laut. Letakkan kayu di lokasi yang terlindung, sebaiknya jangan kena hujan, karena nanti akan kesulitan dalam menentukan kadar air. Serbuk gergaji jangan langsung digunakan, tapi timbun dahulu selama kurang lebih 3 minggu.

Demikian juga dengan sampah hijau, sampah-sampah tersebut dicacah terlebih dahulu menjadi bagian yang kecil-kecil. Kemudian sampah yang dicacah tersebut dijemur sampai kering dibawah sinar matahari, dan jangan sampai terkena air. Bahan lain yang harus yang harus dipersiapkan adalah bekatul dan kapur.

Pencucian atau Perendaman

Serbuk kayu yang telah dikeringkan dicuci dengan air bersih, hal ini bertujuan untuk menghilangkan getah dan minyak yang terdapat dalam serbuk kayu. Selain itu pencucian dilakukan agar serbuk kayu menjadi cepat lapuk sehingga mudah diuraikan oleh jamur. Pencampuran

Setelah kadar air mencapai 60-70% maka dilakukan pencampuran dengan bahan-bahan tambahan hingga merata ( bekatul padi, dan kapur). Pencampuran dilakukan dengan cara manual. Kadar air jangan terlalu tinggi dan lokasi pencampuran usahakan yang higienis. Dalam proses pencampuran bahan diusahakan agar tidak terdapat gumpalan, karena gumpalan dapat menghambat pertumbuhan jamur. Adonan yang dibuat harus memiliki kadar air antara 60-70%. Hal ini dapat dilihat dengan cara mengepalkan adonan, jioka adonan dikepal membentuk gumpalan dan mudah dipecahkan maka adonan itu siap digunakan. pH media yang paling baik untuk pertumbuhan jamur adalah 6-7. Berikut ini adalah komposisi bahan baku dan bahan tambahan dalam pembuatan media jamur dalam bentuk bag log :

* Serbu kayu 45%
* Nutrisi 20%
* Sampah Hijau 30%
* CaSO4 5 %

Pengomposan

Pengompoasn dilakukan agar senyawa-senyawa komplek yang terdapat dalam bahan adonan lebih mudah terurai menjadi senyawa sederhana yang dapat dicerna oleh jamur sehingga pertumbuhan jamur lebih optimal. Pengomposan dilakukan dengan cara menutup rapat adonan dengan plastic atau terpal selama 2 x 24 jam dan dibolak-balik. Pengomposan baik jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50-70oC dengan pH 6-7 dan kadar air mencapai 60-70%.

Pewadahan

Adonan yang telah dikomposkan dimasukkan kedalam plastic propilen (PP) Gunakan plastik roll polipropilen 0.05 x 18cm yang dipotong-potong per 35cm, dan dipadatkan, apabila media kurang padat mengakibatkan hasil panen kurang optimal karena media lebih cepat busuk. Berat baglog rata-rata sebelum di steam untuk ukuran ini adalah 1350gram. Setelah media padat ujung plastik disatukan dan diberi ring pada bagian leher plastic dan pada lubangnya biberikan sumbatan atau kapas steril kemudian ujung media ditutup plastic dan diikat karet agar media tetap steril.

Sterilisasi

Dilakukan dengan memasukkan semua bag log kedalam drum (stiem atau autoklap). Jika menggunakan drum, lankah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

* Susun baglog di dalam drum (biasanya berkapasitas 60 baglog)
* Uapkan hingga suhu mencapai 90 – 100 derajat C
* Setelah suhu tercapai, biarkan konstan selama 3 – 4 jam
* Untuk ekonomisnya gunakan kayu bakar yang bisa dibantu dengan batu bara, lalu di blower dengan kipas angin.
* Biarkan mendingin hingga suhu di kisaran 50 derajat, baru dipindahkan ke ruang inokulasi.

Tahapan dengan menggunakan ruang steam (steamer):

* Susun baglog secara berdiri (vertikal)
* Jika disusun horizontal (tidur) kepadatan baglog harus bagus dan isi steamer harus penuh.
* Uap panas di alirkan ke dalam steamer menggunakan boiler
* Penggunaan boiler ini untuk menghasilkan uap panas dengan optimal dengan penggunaan bahan bakar yang ekonomis.

Jangan lupa menutup ujung media baglog dengan plastic sebelum dikukus. Pastikan suhu media (termometer tertancap ke baglog) telah mencapai 100 derajat C. Media baglog yang matang (cukup dikukus) diindikasikan dengan warna yang lebih gelap dari pada sebelum dikukus. Lama proses sterilisasi jika menggunakan steamer atau drum ini berkisar antara 10 – 14 jam. Jika menggunakan autoclaf lama sterilisasi biasanya hanya memakan waktu 6 jam

Pendinginan

Setelah disterilisasi media didinginkan sebelem media dikeluarkan dari ruang sterilisasi sebaiknya media dibiarkan dahulu 6-12 jam diruang sterilisasi. Baru dikeluarkan dan ditempatkan pada rak-rak untuk didinginkan. Pendinginan tidak boleh dilakukan lebih dari 3×24 jam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *