Perlu Berapa Tahun untuk Hijaukan Riau? [Riaupos]


Bagi-bagi pohon gratis saat ini sama halnya dengan kisah bagi-bagi kondom gratis beberapa dasawarsa silam, saat awal-awal program KB (Keluarga Berencana) diperkenalkan. Meskipun gratis, banyak yang enggan memanfaatkannya.
Tahukah Anda, kalau untuk menghijaukan Riau itu butuh waktu unlimitted alias tanpa batas? Bagaimana perhitungannya? Saat ini, di Riau berdasarkan data Balai Besar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Indragiri-Rokan, yang banyak mengurusi soal reboisasi, penghijauan, dan penyediaan bibit dari pemerintah pusat, ada 819.276 Ha lahan kritis di Riau. Terdiri dari 423.822 Ha di dalam kawasan hutan (baik hutan konservasi, hutan lindung, taman raya maupun lainnya) dan 395.454 Ha di luar kawasan hutan (misalnya perumahan, perkebunan, dll).
Sementara setiap tahunnya, di Riau melalui dana APBN (termasuk kegiatan reboisasi dan penghijauan di kabupaten/kota yang menggunakan dana APBN), menurut Heri Soleh, Kasi Program DAS didampingi stafnya Didik, biasanya hanya mampu melakukan penghijauan untuk jatah sekitar 3.000 Ha per tahun. Kalau misalnya dibagi antara lahan kritis dengan dengan kemampuan penghijauan, yakni 819.276 Ha dibagi 3.000 Ha per tahun maka hasilnya 273 tahun atau hampir tiga abad. Itu kalau target 3.000 Ha tercapai dan semua pohon yang ditanam tumbuh semua.
Kalau tidak? Ya mungkin butuh waktu agak lima sampai enam abad. Asumsinya bisa dilihat dari realisasi tahun 2010 saja, dari target 3.000 ha yang terealisasi hanya 1.525 Ha. Selanjutnya dari semua pohon yang ditanam tersebut, ternyata tidak ada yang bisa tumbuh 100 persen. Normalnya, hanya 70 persen, itu sudah bagus.
“Dalam ilmu kehutanan, kalau menanam saja yang tumbuh 70 persen saja itu sudah baik. Karena dalam menanam makluk hidup, tidak bisa 100 persen,” ujar Sutrisna, Kasi Kelembagaan Daerah Aliran Sungai (DAS), (BPDAS) Indragiri-Rokan, Rabu (5/1) lalu.
Kondisi itu belum diperparah dengan peningkatan jumlah lahan terdegradasi yang bertambah terus. Ibaratnya lahan terdegradasi melaju bak deret ukur, sementara kemampuan untuk menanam pohon hanya bak deret hitung. Secara umum, kemampuan kita menanam pohon kalah dua kali lipat dari kecepatan degradasi hutan dan lahan.
“Di Indonesia setiap tahun terjadi degradasi lahan 1,08 juta Ha per tahun. Sementara kemampuan untuk melakukan reboisasi ataupun penghijauan hanya 500 ribu Ha per tahun,” papar Trisna, sapaan akrab Sutrisna yang banyak berkecimpung dalam soal menanam pohon oleh masyarakat dan kelembagaan.
Dengan demikian, untuk menghijaukan Riau tak bisa semata wayang dilaksanakan melalui dana pemerintah pusat (APBN), namun juga harus diikuti dengan dana pemerintah daerah (APBD), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), swasta, TNI, ABRI dan masyarakat umum lainnya.
Baru Sekadar Euforia dan Tren
Pemerintah pusat memang tidak semata wayang melaksanakan penanaman pohon ini. Tetapi memang telah diikuti oleh berbagi pihak. Cobalah lihat berita di koran atau televisi. Hampir setiap pekan kegiatan menanam pohon dan bagi-bagi bibit gratis dilaksanakan. Ia telah menjadi euforia. Menjadi tren. Apapun kegiatannya selalu disanding dengan acara tanam pohon. Bahkan sampai acara kondangan pun, souvenir perkawinannya bibit pohon.
Sayangnya sejumlah bibit yang ditanam dan dibagi-bagi gratis itu segera berpulang alias mati usai acara dihelat. Baik karena tak disiram, dimakan hewan, ataupun bibit yang diberi lupa ditanam sehingga mati di polybag itu sendiri.(Riaupos/Andi Noviriyant/iH6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *