Jepang Tolak Periode Kedua Protokol Kyoto [Riaupos]


Cancun Berakhir Stagnan
Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru
andinoviriyanti@riaupos.com

Usai sudah bertemuan PBB untuk Konferensi Perubahan Iklim (UN Climate Change Conference) di Cancun, Meksiko. Pertemuan yang berlangsung dari tanggal 29 November s/d 10 Desember 2010 dan dihadiri 194 perwakilan negara tersebut sesuai dengan dugaan banyak pihak mengalami stagnansi alias jalan buntu. Bahkan lebih buruk, Jepang menolak periode kedua Protokol Kyoto.
“Saya harus jujur katakan bahwa patut disesali tercipta stagnasi dalam situasi negosiasi di hari terakhir ini,” ujar Rachmat Witoelar, selaku ketua delegasi Indonesia COP-16/CMP-6 di Cancun, melalui rilis resmi Dewan Nasional Perubahan Iklim kepada Riau Pos.
Menurutnya memang ada kemauan dari delegasi masing-masing negara kunci untuk melakukan kompromi politis, namun kemajuan negosiasi berjalan sangat lambat. Diperparah lagi dengan kukuhnya Perdana Menteri Jepang dalam menolak periode komitmen keduaProtokol Kyoto.
Walaupun terlihat ada kemauan untuk melakukan kompromi politis dari para negara kunci, kemajuan negosiasi masih terlihat lamban, -jika tidak mau dikatakan bergerak di tempat.  Satu hal yang cukup menghambat kemajuan yang progresif adalah kukuhnya Perdana Menteri Jepang dalam menolak periode komitmen kedua Protokol Kyoto.
Menurut Agus Purnomo, anggota Delegasi RI yang juga staf khusus Presiden RI untuk Perubahan Iklim, dalam suatu media online, sikap Jepang seperti itu karena frustasi terhadap Amerika yang tidak kunjung meratifikasi Protokol Kyoto dan memberikan komitmen penurunan emisi. Padahal Amerika merupakan negara penghasil emisi terbesar di dunia setelah Cina.
Menurut negosiator Jepang Akira Yamada, pada media online yang sama, mereka tidak ingin mengakhiri Protokol Kyoto. Mereka hanya tidak mau ada komitmen kedua bila Amerika dan negara berkembang utama, seperti Cina, India, dan Brazil tidak kunjung ikut berkomitmen mereduksi emisi.
Menurutnya lagi, Protokol Kyoto hanya mencakup sekitar 30 persen emisi global karena dua penyebab polusi utama, Cina dan Amerika tidak tercakup. Yamada menyatakan tanpa Amerika dan Cina, Protokol kyoto bukanlah jalan yang adil dan efektif untuk perubahan.(Riaupos/iH6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *